Dampak Framing Berita pada Persepsi Publik : Tinjauan Psikologi Komunikasi
Abstrak
Komunikasi
massa memegang peran penting dalam membentuk persepsi publik melalui proses
framing, di mana media memilih dan mengorganisir informasi untuk menciptakan
makna tertentu yang mempengaruhi audiens. Framing tidak hanya menyampaikan
fakta, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap peristiwa,
seperti yang terlihat pada pemberitaan tragedi Kanjuruhan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji dampak framing berita terhadap persepsi publik, dengan
fokus pada bagaimana media massa membingkai informasi untuk membentuk respons
sosial yang lebih luas. Menggunakan pendekatan teori framing Robert Entman dan
model analisis framing oleh Pan & Kosicki, studi ini menunjukkan bagaimana
elemen framing—seperti pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian
moral, dan penetapan solusi—dapat mempengaruhi interpretasi publik terhadap
suatu peristiwa. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa framing berita yang
dilakukan media berperan signifikan dalam membentuk opini publik, memengaruhi
sikap masyarakat terhadap isu yang diberitakan, serta mendorong respons sosial
yang berpotensi mendorong perubahan kebijakan atau tindakan sosial.
Kata
kunci : framming berita, persepsi publik, komunikasi massa, psikologi
komunikasi, respon sosial
Pendahuluan
Komunikasi massa memiliki peran
yang sangat penting dalam membentuk persepsi publik terhadap berbagai isu yang
berkembang di masyarakat. Media massa, melalui pemberitaannya, tidak hanya
menyampaikan informasi, tetapi juga dapat mempengaruhi cara pandang masyarakat
terhadap suatu peristiwa. Hal ini terjadi melalui proses framing, yaitu cara
media memilih, menonjolkan, dan mengorganisir informasi untuk membentuk makna
tertentu bagi audiensnya. Framing berfungsi untuk menyoroti aspek-aspek
tertentu dari peristiwa atau isu, yang kemudian membentuk interpretasi dan
respons publik terhadapnya.
Menurut Entman (2002), framing
adalah suatu proses pemilihan dan penekanan informasi dalam media untuk
memengaruhi cara pandang audiens. Framing tidak selalu menyelewengkan
kebenaran, tetapi dapat memfokuskan perhatian pada aspek-aspek tertentu dari
suatu peristiwa yang dianggap penting untuk disampaikan kepada publik. Hal ini
menunjukkan bahwa framing memiliki kekuatan dalam membentuk konstruksi sosial
dan pemahaman masyarakat terhadap realitas. Dalam konteks ini, media berperan
sebagai agen yang bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga sebagai pihak yang
mempengaruhi bagaimana fakta tersebut diterima dan diproses oleh khalayak.
Pentingnya peran media dalam
membingkai informasi juga terlihat dalam berbagai peristiwa besar yang
diberitakan secara luas, seperti tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, yang
melibatkan kerusuhan di stadion sepak bola yang menyebabkan banyaknya korban
jiwa. Berita tentang tragedi ini disampaikan dengan berbagai cara oleh media,
masing-masing dengan framing yang berbeda. Sebagai contoh, pemberitaan di media
Narasi lebih menekankan pada kesalahan penanganan massa oleh aparat kepolisian
yang menyebabkan banyaknya korban jiwa. Hal ini menggambarkan bagaimana framing
berita dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pelaku, penyebab, dan
solusi dari suatu peristiwa.
Menurut Sobur (2001), media
massa tidak hanya berfungsi sebagai penyebar informasi, tetapi juga sebagai
alat yang membentuk realitas sosial melalui cara mereka menyajikan berita.
Setiap media memiliki cara sendiri dalam memilih dan menonjolkan aspek-aspek
tertentu dari suatu peristiwa. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor,
seperti ideologi, politik, dan bahkan kepentingan ekonomi yang mendasari media
tersebut. Dalam hal ini, framing berita yang dilakukan oleh media dapat
menyoroti sudut pandang tertentu yang akan membentuk pandangan publik terhadap
suatu peristiwa.
Framing berita juga memiliki
dampak besar pada persepsi publik. Seperti yang dijelaskan oleh Eriyanto
(2002), framing bukan hanya tentang cara berita disusun, tetapi juga tentang
bagaimana hal tersebut membentuk makna yang lebih besar di mata masyarakat.
Dalam studi ini, peneliti tertarik untuk mengeksplorasi bagaimana media massa,
melalui teknik framing, dapat membentuk persepsi publik terhadap tragedi besar
seperti Kanjuruhan, serta bagaimana hal tersebut menciptakan respons sosial
yang lebih luas.
Sebagai salah satu contoh, media
Narasi melalui framing berita mengenai tragedi Kanjuruhan menekankan pada
kesalahan penanganan oleh aparat kepolisian dan kelalaian dalam pelaksanaan
aturan keamanan. Framing ini tidak hanya menggambarkan tragedi sebagai
peristiwa yang memilukan, tetapi juga menyoroti isu-isu struktural yang lebih
besar dalam organisasi sepak bola Indonesia dan sistem pengamanan publik.
Dengan demikian, framing berita ini memiliki dampak psikologis yang kuat pada
audiens, membentuk persepsi mereka tentang siapa yang harus disalahkan dan
bagaimana peristiwa tersebut harus diselesaikan.
Sebagai kesimpulan, framing
berita memiliki peranan penting dalam membentuk persepsi publik terhadap
peristiwa yang diberitakan. Studi ini akan mengkaji lebih dalam bagaimana
framing yang dilakukan oleh media massa, khususnya dalam pemberitaan tragedi
Kanjuruhan, mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap peristiwa tersebut dan
bagaimana hal ini terkait dengan konsep psikologi komunikasi yang lebih luas.
Pembahasan ini akan berfokus pada analisis dampak framing terhadap persepsi
publik serta bagaimana media berfungsi sebagai agen dalam membentuk realitas
sosial.
Landasan
teori
Teori
Framing Robert Entman
Teori framing pertama kali dikembangkan oleh Robert
Entman pada awal 1990-an. Framing dalam komunikasi massa mengacu pada cara
media memilih dan menyoroti aspek tertentu dari sebuah peristiwa atau isu untuk
membentuk cara pandang audiens terhadap isu tersebut. Entman (1993)
mengungkapkan bahwa framing tidak hanya melibatkan pemilihan topik untuk
diberitakan, tetapi juga bagaimana media memilih kata-kata atau elemen visual
untuk menekankan suatu aspek dari peristiwa tersebut. Entman mengemukakan bahwa
framing media mempengaruhi cara audiens memahami suatu peristiwa, dengan
menyoroti elemen-elemen tertentu dari berita yang dapat memperkuat atau
melemahkan pesan yang ingin disampaikan.
Model
Framing Zhongdang Pan & Gerald M. Kosicki
Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki mengembangkan
model analisis framing yang lebih terperinci dengan memfokuskan pada empat
elemen penting: sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Model ini memberikan
pandangan yang lebih sistematis tentang bagaimana media membingkai sebuah
peristiwa. Menurut Pan dan Kosicki (1993), framing bukan hanya tentang apa yang
diberitakan, tetapi juga bagaimana berita tersebut disusun dan disajikan untuk
membentuk makna tertentu bagi audiens. Keempat elemen ini memberikan gambaran
komprehensif mengenai struktur framing yang digunakan oleh media.
Psikologi Persepsi Publik
Dalam komunikasi massa, persepsi publik
merujuk pada cara individu atau kelompok memahami, memaknai, dan merespons
informasi yang diterima dari media massa. Psikologi komunikasi menjelaskan
bagaimana pesan yang diterima oleh individu dapat dipengaruhi oleh pengalaman,
latar belakang sosial, serta kondisi psikologis mereka. Persepsi tidak hanya
sekadar hasil interpretasi objek yang diterima, tetapi juga dipengaruhi oleh
berbagai faktor internal seperti bias pribadi, emosi, dan pemahaman yang sudah
terbentuk sebelumnya.
Dalam konteks komunikasi massa, media memiliki
peran besar dalam membentuk persepsi publik tentang suatu isu. Proses ini
berhubungan erat dengan bagaimana media menyajikan pesan dan bagaimana audiens
menanggapi pesan tersebut. Suryanto (2011) dalam bukunya Psikologi
Komunikasi menyatakan bahwa persepsi publik terhadap media sangat
dipengaruhi oleh cara media tersebut mengemas informasi dan membingkainya.
Masyarakat cenderung mengandalkan informasi yang mereka terima dari media
sebagai dasar untuk membentuk pendapat atau sikap terhadap peristiwa yang
terjadi.
Agenda Setting dan Priming dalam Komunikasi Massa
Teori agenda setting mengemukakan bahwa
media tidak hanya memberi tahu audiens apa yang harus dipikirkan, tetapi juga
apa yang harus diprioritaskan. McCombs dan Shaw (1972) pertama kali
mengembangkan teori ini dengan menyatakan bahwa media memiliki kekuatan untuk
menentukan topik apa yang layak mendapat perhatian publik. Dengan cara ini,
media mengarahkan perhatian audiens terhadap isu-isu tertentu yang dianggap
penting. Misalnya, jika media secara terus-menerus memberitakan masalah
kesehatan tertentu, masyarakat akan menganggap isu tersebut lebih penting
dibandingkan dengan isu-isu lain yang jarang dibahas.
Priming adalah
konsep yang lebih lanjut dari agenda setting, yang menunjukkan bagaimana media
tidak hanya memberi tahu audiens tentang apa yang harus dipikirkan, tetapi juga
memberi penekanan pada bagaimana audiens harus memikirkan masalah tersebut.
Melalui priming, media dapat menekankan aspek-aspek tertentu dari sebuah
peristiwa untuk mempengaruhi bagaimana audiens menilai suatu isu atau tokoh.
Sebagai contoh, jika media selalu mengaitkan sebuah isu dengan ketakutan atau
ancaman, audiens mungkin lebih cenderung untuk memandang masalah tersebut
dengan perspektif yang lebih negatif atau kritis.
Bias
Kognitif dan Heuristik dalam Penerimaan Pesan Media
Bias kognitif merujuk
pada kecenderungan individu untuk membuat keputusan atau penilaian yang tidak
rasional dan sering kali salah. Bias ini seringkali dipicu oleh preferensi
pribadi, informasi yang terbatas, atau pengaruh luar yang tidak disadari. Dalam
komunikasi massa, bias kognitif ini dapat mempengaruhi bagaimana audiens
menafsirkan berita dan informasi. Misalnya, seseorang yang memiliki bias
politik mungkin akan menilai berita dengan cara yang sesuai dengan pandangan
politiknya, mengabaikan elemen-elemen lain yang tidak mendukung sudut pandang
tersebut.
Heuristik adalah
strategi mental yang digunakan untuk mempermudah pengambilan keputusan, namun
sering kali menghasilkan kesalahan. Dalam konteks media, heuristik dapat
membantu audiens membuat keputusan cepat tentang berita yang mereka terima,
tetapi seringkali tidak mempertimbangkan seluruh informasi yang ada. Misalnya,
ketika audiens menerima berita tentang kejahatan, mereka mungkin menggunakan
heuristik untuk mengaitkan berita tersebut dengan kelompok tertentu atau
stereotip tertentu tanpa mengevaluasi informasi lebih lanjut.
Framing dalam Praktik Media
Framing dalam praktik media
merujuk pada cara media memilih dan menyajikan informasi terkait peristiwa atau
isu tertentu, yang kemudian membentuk persepsi publik. Dalam komunikasi massa,
framing berperan sebagai alat yang digunakan oleh media untuk memberikan
pemahaman tertentu tentang suatu kejadian dengan menonjolkan aspek-aspek
tertentu dan mengabaikan atau mengecilkan aspek lainnya. Ini berarti framing
bukan hanya soal apa yang diberitakan, tetapi juga bagaimana cara berita
tersebut dibingkai untuk memengaruhi interpretasi publik.
Robert N. Entman, seorang ahli
komunikasi, mengembangkan model framing yang terkenal. Model ini
mengidentifikasi empat elemen utama dalam framing: pendefinisian
masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral,
dan penetapan solusi. Dalam konteks media, masing-masing
elemen ini dapat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu peristiwa, serta
respons yang mereka berikan terhadapnya.
1.
Pendefinisian Masalah
Setiap pemberitaan dimulai dengan pemilihan masalah yang akan dibahas. Di sini,
media memutuskan isu atau peristiwa mana yang akan menjadi sorotan utama, serta
bagaimana peristiwa tersebut dipahami dan dijelaskan. Misalnya, dalam kasus
tragedi Kanjuruhan, media dapat memfokuskan pada kesalahan aparat kepolisian
dalam menangani massa, sementara media lain mungkin akan menyoroti
ketidakberdayaan pihak keamanan dalam mengontrol kerusuhan. Pilihan ini
mengarah pada bagaimana publik melihat peristiwa tersebut—apakah sebagai
kegagalan sistemik atau kecelakaan yang tidak terhindarkan.
2.
Diagnosis Penyebab
Setelah mendefinisikan masalah, media akan menyoroti penyebab atau aktor yang
dianggap bertanggung jawab. Dalam framing tragedi Kanjuruhan, misalnya, ada
media yang menyoroti peran kepolisian sebagai penyebab utama tragedi melalui
penggunaan gas air mata, yang memicu kepanikan dan korban tewas. Framing ini
membentuk kesan bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh kelalaian atau
kebijakan yang tidak tepat dari aparat. Sebaliknya, media lain mungkin akan
memberikan pandangan yang lebih luas tentang faktor-faktor lain, seperti
kerusakan fasilitas stadion atau kegagalan manajemen acara.
3.
Penilaian Moral
Dalam langkah ini, media memberikan nilai moral terhadap peristiwa yang
terjadi. Penilaian moral ini tidak hanya menggambarkan kejadian, tetapi juga
memberikan interpretasi apakah peristiwa tersebut dapat diterima atau tidak
oleh masyarakat. Dalam contoh tragedi Kanjuruhan, media yang menyoroti tindakan
aparat sebagai penyebab kematian akan menilai tindakan mereka sebagai tidak
etis dan bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia. Di sisi lain, media
yang lebih fokus pada faktor lain mungkin akan mengurangi penekanan pada
moralitas dan lebih menyoroti aspek teknis dari peristiwa tersebut.
4.
Penetapan Solusi
Setelah mendefinisikan masalah dan penyebabnya serta memberikan penilaian
moral, media akan sering menawarkan solusi atau rekomendasi. Ini bisa berupa
seruan untuk perubahan kebijakan, penuntutan hukum, atau evaluasi ulang
terhadap sistem yang ada. Sebagai contoh, setelah tragedi Kanjuruhan, banyak
media yang mendesak agar Komnas HAM melakukan penyelidikan lebih dalam, serta
mendesak pihak berwenang untuk bertanggung jawab atas peristiwa tersebut dan
memastikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Framing ini tidak hanya terbatas
pada media yang meliput kejadian besar seperti tragedi, tetapi juga sering
digunakan dalam pemberitaan isu sosial, politik, dan lainnya. Misalnya, dalam
pemberitaan kekerasan seksual, framing yang digunakan oleh media dapat mengubah
cara pandang masyarakat terhadap siapa yang harus disalahkan atau apa yang
perlu dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan demikian, framing
memainkan peran penting dalam membentuk opini publik dan memengaruhi tindakan
yang diambil oleh individu atau kelompok dalam masyarakat.
Dalam praktik media saat ini,
framing dapat sangat bergantung pada platform dan audiens yang dituju. Media
yang lebih tradisional mungkin memiliki pendekatan framing yang lebih
konservatif, sementara media online yang lebih modern sering kali lebih
berfokus pada elemen-elemen sensasional atau kontroversial untuk menarik
perhatian pembaca. Oleh karena itu, sangat penting bagi pembaca untuk
mengembangkan kemampuan kritis terhadap berita yang diterima, agar tidak
terpengaruh secara sepihak oleh framing yang diterapkan media.
Dampak framing berita terhadap
persepsi publik merupakan topik yang penting untuk dibahas, khususnya dalam
konteks psikologi komunikasi. Framing adalah cara media membingkai suatu
peristiwa atau isu untuk membentuk pemahaman atau perspektif tertentu di
kalangan audiens. Media seringkali menggunakan teknik framing untuk menonjolkan
aspek-aspek tertentu dari sebuah kejadian yang dapat mempengaruhi bagaimana
masyarakat melihat dan merespons isu tersebut. Dalam analisis ini, kita akan
melihat bagaimana media menggunakan framing dalam melaporkan berbagai peristiwa
dan bagaimana hal tersebut berdampak pada persepsi publik.
Framing Berita dan Persepsi
Publik
Framing berita dapat
mempengaruhi persepsi publik dengan cara menekankan berbagai aspek dari
peristiwa yang dilaporkan. Seperti yang diungkapkan oleh Robert N. Entman,
framing memiliki empat elemen utama: pendefinisian masalah, diagnosis penyebab,
penilaian moral, dan penetapan solusi . Elemen-elemen ini membantu media dalam
menentukan bagaimana suatu peristiwa dipersepsikan oleh publik. Misalnya,
ketika suatu peristiwa diberitakan, media memilih untuk mendefinisikan
peristiwa tersebut sebagai masalah sosial, politik, atau kriminal, yang dapat
memengaruhi bagaimana audiens menilai dan merespons kejadian tersebut.
Definisi Masalah
Dalam framing, pertama-tama
media menentukan masalah apa yang harus dipertimbangkan penting. Misalnya,
dalam tragedi Kanjuruhan, pemberitaan tentang tragedi tersebut menekankan
kegagalan aparat kepolisian dalam mengelola kerumunan suporter, yang mengarah
pada banyaknya korban jiwa. Media yang membingkai peristiwa ini dengan cara
seperti ini akan membuat publik lebih fokus pada aspek kegagalan penanganan
oleh aparat daripada aspek lain dari tragedi tersebut, seperti faktor keamanan
stadion atau kesalahan pengelolaannya.
Penyebab Masalah
Framing juga memainkan peran
dalam menentukan siapa atau apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu
masalah. Dalam konteks kekerasan seksual yang dilaporkan oleh media online,
beberapa pemberitaan mungkin lebih fokus pada individu sebagai pelaku,
sementara yang lain lebih fokus pada kelemahan sistem atau kurangnya
pengawasan. Pilihan framing seperti ini membentuk pemahaman publik tentang apa
yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Penilaian Moral
Framing sering kali mencakup
elemen penilaian moral, yang mengarahkan audiens untuk menilai suatu peristiwa
dari sudut pandang moral atau etika tertentu. Misalnya, dalam pemberitaan kasus
kekerasan seksual, media mungkin menilai perilaku pelaku sebagai kejahatan
besar, dan menyoroti dampak psikologis pada korban. Penilaian seperti ini dapat
membentuk sikap masyarakat terhadap isu tersebut dan mempengaruhi respons
sosial, seperti dukungan untuk reformasi hukum atau kebijakan terkait.
Penetapan Solusi
Media juga sering menggunakan
framing untuk merekomendasikan solusi atas masalah yang telah didefinisikan.
Misalnya, dalam pemberitaan mengenai bencana alam atau tragedi kemanusiaan,
media seringkali mengajak audiens untuk mendukung tindakan tertentu, seperti
donasi atau advokasi kebijakan.
Dampak Framing terhadap
Persepsi Publik
Framing berita tidak hanya
mengubah cara publik memahami suatu peristiwa, tetapi juga dapat mempengaruhi
bagaimana mereka meresponsnya. Ketika media memilih untuk menonjolkan aspek
tertentu dari suatu peristiwa, mereka pada dasarnya mengarahkan perhatian
publik pada elemen-elemen yang dianggap penting oleh media tersebut. Ini bisa
menghasilkan perubahan dalam sikap publik, yang akhirnya mempengaruhi tindakan
sosial atau kebijakan publik. Sebagai contoh, pemberitaan tentang kekerasan
seksual dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan
hak-hak perempuan dan memotivasi tindakan legislatif yang lebih kuat untuk
menangani kekerasan berbasis gender.
Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Ramadhan et al. tentang tragedi Kanjuruhan, ditemukan bahwa framing yang
digunakan oleh media seperti Narasi News menyoroti kegagalan aparat kepolisian
dalam mengelola kerumunan, yang akhirnya menciptakan persepsi publik tentang
perlunya pertanggungjawaban hukum dan reformasi dalam pengelolaan keamanan
stadion. Dengan framing seperti ini, media tidak hanya melaporkan fakta tetapi
juga membentuk opini masyarakat tentang apa yang harus dilakukan untuk
mengatasi masalah yang terjadi.
Kesimpulan
Kesimpulan
dari artikel ini adalah bahwa framing berita memiliki pengaruh signifikan
terhadap pembentukan persepsi publik terhadap peristiwa yang diberitakan. Media
massa, melalui teknik framing, dapat menekankan atau mengabaikan aspek-aspek
tertentu dari suatu kejadian, yang berpotensi membentuk pandangan masyarakat
terhadap pelaku, penyebab, dan solusi dari peristiwa tersebut. Dalam konteks
tragedi Kanjuruhan, misalnya, pemberitaan yang mengutamakan kesalahan aparat
kepolisian dalam menangani kerumunan, membentuk persepsi publik tentang
perlunya pertanggungjawaban dan reformasi dalam pengelolaan keamanan stadion.
Dengan demikian, media bukan hanya sebagai penyebar informasi, tetapi juga berfungsi
sebagai agen yang membentuk realitas sosial melalui cara mereka menyajikan dan
membingkai berita. Oleh karena itu, pemahaman yang kritis terhadap cara media
membingkai informasi sangat penting agar publik dapat menilai berita secara
objektif dan tidak terpengaruh oleh framing yang berpotensi mempengaruhi sikap
dan tindakan sosial.
1.
Artikel Jurnal:
- Khoerunisa, D. (2024). Analisis Framing
Model Entman Pada Pemberitaan Kebocoran Pusat Data Nasional (PDN) di Media
Online. Jurnal IKRA-ITH Humaniora.
- Pitaloka, R. D. A., & Wijaya, M.
(2024). Framing Media Online: Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dalam Berita
CNN Indonesia. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (JPTAM).
- Hamid, S. S. N., et al. (2023). Analisis
Framing Pemberitaan Media Narasi Tentang Tragedi Kanjuruhan Malang.
- Aini, N., & Hariyanto, D. (2024).
Analisis Framing Kompas.com pada Komunikasi Publik Pemerintah Covid-19,
Juni-Juli 2021. Jurnal Komunikasi UNUSA.
- Putri, R., & Setiawan, H. (2023).
Analisis Framing Pemberitaan Media Online Detik.com dan Tribunnews.com: Kasus
Pelecehan Seksual di Universitas Andalas.
2.
Buku:
- Eriyanto. (2012). Analisis Framing:
Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Jakarta: LKiS.
- Littlejohn, S. W., & Foss, K. A.
(2009). Theories of Human Communication. Wadsworth.
- Morissan. (2013). Manajemen Media
Penyiaran: Strategi Mengelola Radio dan Televisi.
- West, R., & Turner, L. H. (2018).
Introducing Communication Theory: Analysis and Application. New York:
McGraw-Hill.
- Suryanto, A. (2011). Psikologi Komunikasi.
Komentar
Posting Komentar